Primbon Jawa
Pasaran Jawa: Arti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon
Pasaran adalah siklus lima hari khas Jawa yang berjalan berdampingan dengan pekan tujuh hari. Dari sinilah weton terbentuk.
Asal Usul Pasaran
Jauh sebelum kalender Jawa disusun pada masa Sultan Agung, masyarakat Jawa sudah mengenal putaran lima hari ini. Namanya berkaitan dengan hari pasar. Pedagang zaman dulu berpindah dari satu pasar ke pasar lain mengikuti giliran lima harian, sehingga tiap tempat punya hari ramainya sendiri. Kebiasaan itu melekat sampai nama nama pasaran dipakai sebagai penanda waktu.
Sampai sekarang jejaknya masih terasa. Banyak pasar tradisional di Jawa yang namanya memakai pasaran, seperti Pasar Legi di Solo atau Pasar Kliwon yang juga menjadi nama kecamatan.
Watak Kelima Pasaran
Dalam primbon, orang yang lahir pada pasaran tertentu diyakini membawa watak khasnya. Berikut gambaran yang umum dirujuk.
Legi (neptu 5)
Ramah, sabar, dan pandai bergaul. Cenderung hemat serta suka menolong, meski kadang kurang tegas dalam mengambil keputusan.
Pahing (neptu 9)
Berpendirian kuat dan pekerja keras. Punya cita-cita tinggi dan pantang menyerah, walau kadang terkesan keras kepala.
Pon (neptu 7)
Cerdas dan pandai bicara. Mudah bergaul dan senang membantu sesama, namun perlu berhati-hati agar tidak boros.
Wage (neptu 4)
Tegas, jujur, dan mandiri. Teguh memegang prinsip, tetapi sesekali bisa terlihat kaku atau mudah tersinggung.
Kliwon (neptu 8)
Berwibawa dan peka terhadap sekitar. Punya intuisi kuat dan daya tarik alami, serta senang menolong orang lain.
Watak pasaran ini nantinya dipadukan dengan watak hari kelahiran untuk membentuk bacaan weton yang utuh. Kamu bisa melihat hasil perpaduannya di daftar 35 weton atau langsung menghitung lewat kalkulator cek weton.
Kenapa Pasaran Hanya Lima Hari?
Siklus lima hari dipercaya berakar dari cara pandang Jawa kuno terhadap arah mata angin. Empat penjuru ditambah titik tengah menghasilkan lima posisi, dan tiap pasaran dikaitkan dengan salah satunya. Karena putarannya pendek, pasaran gampang dihafal dan praktis dipakai untuk janjian, menandai hari pasar, sampai menghitung selametan.
Pasaran dan Hitungan Weton
Karena pekan tujuh hari dan pasaran lima hari berjalan bersamaan, kombinasi keduanya baru kembali sama setiap 35 hari. Putaran 35 hari ini disebut selapan, dan menjadi dasar kenapa peringatan weton (wetonan) diadakan tiap 35 hari sekali.
Nilai neptu tiap pasaran juga dipakai dalam berbagai hitungan, dari kecocokan jodoh sampai pemilihan hari baik. Tabel lengkapnya ada di halaman neptu Jawa.